PRAWIRA UJUNG TIMUR - CERITA FIKSI
Terik matahari rasanya begitu menyengat di ujung timur
Indonesia tat kala mulai memasuki
bulan mei, menyusul musim penghujan telah usai.
Kstaria-ksatria garda terdepan penjaga negara masih terus berjibaku mengantisipasi ancaman kelompok separatis. Aku,
Syafruddin Prawiranegara atau lebih akrab disapa Wira, menjadi bagian dari kstaria Prajurit TNI berpangkat Sersan Dua. Baru 4 bulan lalu aku menyelesaikan Pendidikan Bintara, setelah
beberapa bulan yang entah aku rasakan di kawah candradimuka, aku masih jua tak menyangka
impianku sejak semasa kecil kini telah terwujud.
Aku ditempatkan
di satuan tugas yang terbilang sangat
jauh, Aku harus meninggalkan Keluargaku di Banjarnegara
untuk kemudian berangkat ke tanah Mutiara di ujung timur Indonesia, yaa...
Papua. Tepatnya di Komando Distrik Militer 1710/Timika. Kini jiwa mudaku justru kian menggelora,
bertugas di perbatasan Indonesia dan menjaga negeriku tercinta dari kelompok
yang mengatasnamakan dirinya merdeka. Organisasi Papua Merdeka memang kian
menjadi beberapa waktu terakhir, penjagaan di pos-pos pun kian diperketat, ini
menjadikan semangat dalam diriku makin membara.
“beep beep” suara klakson mobil
pribadi masuk dan berhenti tepat di depan pos jaga Kodim.
“Permisi Pak, saya mau ketemu pak
Dandim, ada yaa?”, ujar seorang pria berjas hitam yang baru saja turun dari
mobil.
“Maaf Pak, ini area terbatas, ada
keperluan apa ya menemui Pak Dandim?”, jawabku sembari beranjak dari pos
menghampiri orang tersebut.
“Oh iyaa pak... Maaf sebelumnya saya
Andre dari PT. Intan Mulia Sejahtera, tambang batubara di balik hutan situ,
sudah ada janji saya sama Pak Dandim kemarin”, tutur Pak Andre.
“Baik boleh saya lihat kartu
identitasnya?”, timpalku.
“Ohh ini pak, silahkan” ujar andre
seraya memberikan kartu identitas padaku.
“Oke saya konfirmasi dulu ke beliau
sebentar, silahkan duduk dulu pak”, ujarku padanya.
Aku pun bergegas menuju ke ruangan
Dandim untuk mengkonfirmasi. “tok tok tok... Permisi Komandan ini saya Wira”
ucapku sambil mengetuk pintu ruangan.
“Iyaa silahkan masuk” sahut Pak Dandim
dari dalam ruangan.
“Permisi Komandan, ini di depan ada
tamu dari PT. Intan Mutiara Sejathtera, katanya sudah janjian dengan Komandan”,
jelasku.
“Baik, Mas. Suruh masuk saja
silahkan”, jawab Pak Irfan. Yaaa... Pak
Irfan Jauhari, beliau adalah Komandan Kodim 1710/Timika. Selepas konfirmasi,
aku beranjak kembali ke Pos Jaga.
“Silahkan masuk, Pak.” Ujarku pada Pak Andre.
“Oh iyaa terimakasih, Pak.” Jawab Andre seraya
bergegas masuk.
“Eeh wiraa... sini ko... duduk sini.” Panggil Oktavius, teman semasa
pendidikan yang kini ditugaskan bersamaku disini.
“Eeh... ada
apa Oktav.” jawabku seraya duduk di sebelahnya.
“Itu
ee, orang tambang tadi sa ajak ngobrol dia. Katanya dia punya tambang mau minta
backing dari kita,” tutur Oktav.
“Ah yang bener lah, kita disini pun masih ketat
mau jaga daerah sini dari OPM. Malah dia minta orang buat jaga tambang,”
cetusku sedikit emosi.
“Iyaa ee, padahal kita orang jaga sini saja sudah
sedikit orangnya, itu orang e malah suruh jaga dia punya tambang, siapa nanti
yang jaga wilayah?” balas Oktavius.
“Eh tapi ko tra mau uang tambahan kah? Jaga itu
tambang ahahah” canda Oktav mencairkan suasana.
“Ah mana ada, negara ini lebih penting dari
sekedar uang” jawabku.
“ahahaha betul itu sudah sudah minum dulu, biar ko
tra emosi” balas Oktav sambil
memberikanku segelas kopi.
Tiga hari kemudian aku dan oktavius mendapat
giliran jaga bersama kembali, seperti biasa kami berjaga di Pos Jaga Depan
Markas Kodim. Namun ada yang kurang kurasakan dari suasana markas daripada hari
biasanya. Hari ini markas tampak lebih
sepi dari biasanya. Baru saja aku tiba di markas rupanya Oktavius sudah
mendahuluiku ada di Pos Jaga.
“Weee baru datang ini anak muda, semalam tidur jam
berapa ko jam segini baru datang?” cetus Oktav
“Yaampun telat 10 menit maaf lah maaf tadi dijalan
agak ngantuk aku jadi lumayan pelan jalannya” balasku, “Ehh kok kayaknya markas
hari ini kerasa lebih sepi ya?” tanyaku pada Oktavius yang tengah menuang
secangkir kopi.
“Ko tra dengar apa pengumuman kemarin, hari ini
ada beberapa prajurit disini yang disuruh jaga itu tambang kemarin.” jawab
Oktav seraya menaruh kopinya di meja.
“Hah? Komandan setuju sama permintaan orang
kemarin?” selaku kaget mendengar hal tersebut. “yaampun tav, kita aja disini
udah pas pas an orangnya masa dikurangi lagi sih”
“Biasalah, cuan cuan komandan. nih ko minum saja
dulu sa punya kopi. Nanti biar sa bikin lagi, biar ko tra da ngantuk lagi”
jawab Oktavius.
Tepat
siang hari saat pergantian jam jaga prajurit, rentetan dentuman tembakan
terdengar dari arah sekitar
markas Kodim, rupanya beberapa
simpatisan kelompok separatis menyerbu markas kami. Aku dan para prajurit kala
itu yang tengah pergantian shift jaga segera membunyikan alarm darurat dan segera menyerang
balik. Seketika aku begitu panik
menghadapi situasi tersebut. Aku
danOktav mencoba tenang dengan menunduk dan segera meminta bantuan lewat
Hndy Talkie yang kupegang. Beberapa prajurit lain mulai keluar dari dalam kodim
ke bagian depan dengan waspada sembari menenteng senapan laras panjang.
“dor dor dor dorr.. pyarr” suara dentuman tembakan
langsung menyerang pos jaga dan kaca ruangan di dekat pos depan pun pecah. Aku
dan Oktav pun membalas tembakan tersebut
bergantian. Hingga aku kehabisan
peluru.
“Oktav!! Peluru mana peluru?” tanya diriku pada
Oktav.
“di dalam ruang itu ambil sana dulu aku jaga depan
sini”
Pak Dedy dan Pak Wahyoe yang semula di dalam
ruangan kini telah berada bersama Oktav menjaga pos depan. Sementara beberapa
prajurit lainnya berjaga di ruang Loby sebelah Pos Jaga, Sembari memberikan
serangan balasan. Kepanikan terjadi mengingat jumlah prajurit yang tidaklah banyak kala itu karena beberapa dialokasikan untuk menjaga tambang. Selepas mengambil peluru betapa kagetnya diriku
melihat Oktav terbaring kesakitan.
“Aaah!! Tolong, Pak!” Teriak Oktav kesakitan
akibat peluru bersarang di dadanya
“Wira... bawa Oktav masuk ke ruangan kasih
pertolongan di dalam.” Ucap Pak Wahyoe kepadaku.
“Siap Pak!” jawabku sembari langsung memapah Oktav
masuk.
“Oktav sadar tav... Tahann jangan pingsan... Ko kuat tav... biar kubalut dulu sini” ucapku
sembari mulai membalut dada oktav dengan perban dan pengikat untuk menghentikan
pendarahan.
“Wiraa.. sakit wir!!” teriak Oktav kesakitan.
“Tahann tav, tarik nafass. Tenang tenang. Nanti ko makin pendarahan kalo
jantungmu kencang,” Ujarku berusaha menenangkan oktav agar tidak semakin mengalami pendarahan.
Lima menit sudah serangan berlangsung dan kelompok Separatis memilih kabur sebelum bantuan dari TNI datang.
selongsong peluru berceceran di Markas Kodim dan beberapa kaca turut pecah tak luput dari serangan
tersebut. Tak hanya itu
cucuran darah pun mengalir dari Serma
Dedy yang tergelatak di dekat pos jaga akibat 3 peluru bersarang
di dadanya. Sedang Serma Wahyoe mencoba memberikan pertolongan. Namun apalah daya nyawanya tak lagi tertolong. Pun Oktav temannya semasa pendidikan yang selalu menemaninya kian kesakitan. Segera ambulance datang ke lokasi
dan Oktav langsung dibawa ke Rumah Sakit menyusul Serma Dedy turut dibawa dalam
keadaan telah gugur di medan perang. Aku menemani Oktav selama perjalanan ke
Rumah Sakit.
“Oktav, ko kuat tav.” Ucapku sambil memegang erat
tangannya.
“Wii.. raa... sa tra lama lagi, itu dia sudah
manggil manggil saya” ucap Oktav terbata bata.
“Tidakk tav. Ko jangan pergi, ko bisaa kuat.”
Selaku semakin menggenggam tangannya dan tanpa sadar pipiku telah basah tak
kuasa melihat ksatria yang berjuang bersamaku sejak dulu berkata demikian.
“Wir.. Sa titip merah putih sama ko... sa..
pamit..” ucap Oktav dan menghembuskan nafas terakhirnya.
“Oktavv!! Tav!! Ko jangan pergii tav!!” teriakku
tak kuasa melihat kepergiannya. Aku hanya bisa tertunduk dan menangis.
Aku masih saja tak menyangka harus kehilangan
teman seperjuangan yang selalu semangat dan berbagi cerita bersamaku. Dua
Ksatria pemberani telah gugur membela merah putih nan agung. Tak ubahnya manusia pada hakikatnya tak pernah luput dari salah, serta hakikat bahwa seorang prajurit harus selalu siap
sedia menghadapi segala kondisi. Namun, rasanya tak adil bilamana rekannya
yang harus meregang
nyawa akibat kelalaian pimpinannya. Rasanya kejadian
yang teramat pilu itu tak akan terjadi jika markas
lebih waspada dan tak melalaikan ancaman demi sekedar uang tambahan.
Komentar
Posting Komentar